Nasionalisasi Bahasa Daerah sebagai sumber kosakata Pemadanan Istilah Asing

28Mar12

Sebetulnya tulisan ini didorong dari kicauan di twitter kemarin pagi. Idenya muncul setelah membaca tulisan Angelina Veni tentang ‘Bahasa Indonesia dan Lokalisasi’. Isi tulisannya tentang penggunaan Bahasa Indonesia pada bahasa pengantar layanan-layanan web populer dan usaha layanan web rintisan lokal yang justru menggunakan bahasa Inggris. Kicauan-kicauan tentang hal ini juga terpicu karena teringat ketika sedang mencari nama dari kelompok riset mengenai informatika terdistribusi yang tadinya mencoba mencari padanan istilah untuk ubiquituous yang salah satu usulan padanannya adalah sarwaga yang berasal dari bahasa Sansekerta.

Tulisan berikut bukan kutipan tapi paragraf awal yang tadinya saya buat sebagai pengantar tulisan ini yang berujung pada paragraf yang terlalu panjang tapi saya kurang tega untuk menghapusnya. Jadi jika masih merasa cukup waktu untuk membaca silakan dibaca. Jika tidak silakan dilompat saja.

Bahasa merupakan kendaraan dalam menyampaikan ide. Pengetahuan yang ada di muka bumi ini pada dasarnya merupakan sebuah kumpulan ide-ide yang disusun secara sistematis. Pengetahuan yang bersifat kolektif diperkaya baik secara formal melalui institusi pendidikan tinggi maupun secara informal melalui kegiatan sehari-hari. Kumpulan pengetahuan yang ada lalu dijadikan makanan sehari-hari melalui proses yang dinamakan Pendidikan. Suatu proses yang menjanjikan kemajuan hidup seseorang dan bahkan suatu bangsa.

Perkembangan pengetahuan termasuk di dalamnya pengetahuan dalam membuat suatu karya yang dinamakan teknologi seringkali tumbuh lebih cepat dibandingkan pengetahuan yang menjelaskan tentang fenomena alam (sains). Pertumbuhan yang cepat tidak lepas dari peran kendali kebutuhan manusia yang menjalankan roda perekonomian. Perkembangan sains akan menjadi landasan bagi perkembangan teknologi, namun perkembangan teknologi tidak hanya ditujukan untuk memajukan bidang sains saja tetapi juga aspek-aspek kehidupan lain dari manusia. Walaupun demikian, batasan organisasi yang berbeda dalam hal lokasi geografis, lingkungan, dan budaya turut mempengaruhi persebaran laju perkembangan pengetahuan.

Era globalisasi mendorong terjadinya pertukaran informasi maupun benda secara cepat. Produk-produk hasil pemikiran dan buah tangan manusia yang dibuat di suatu tempat tidak jarang juga akan digunakan di tempat lain dengan budaya yang berbeda. Pengetahuan dan teknologi tentang menghubungkan antar bahasa yang berbeda kemudian menjadi suatu hal yang memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan hidup banyak orang. Pihak yang menerima dan mengonsumsi produk-produk tersebut dihadapkan pada dua pilihan yaitu mempelajari bahasa asing yang dijadikan acuan konvensional, atau mengusahakan tersedianya fasilitas perantara informasi dalam bahasa yang digunakan sehari-hari.

Pendek kata, Saya merasa kurang nyaman dengan usulan padanan istilah sarwaga. Walaupun dalam deskripsi usulan sarwaga dinyatakan istilah tersebut merupakan istilah yang paling mudah diucapkan oleh lidah orang Indonesia, Saya tetap merasakan istilah ini aneh untuk diucapkan dan dimaknai. Saya lalu terpikirkan sebuah ide “apakah (padanan istilah bahasa asing/inggris ke istilah bahasa Indonesia) harus dari bahasa Sansekerta?” yang berlanjut dengan argumen “Padahal Indonesia sangat kaya dengan keanekaragaman budaya khususnya bahasa” lalu berujung dengan ide “Mengapa (padanan istilah asing tersebut) tidak menggunakan koleksi kosakata dari bahasa daerah saja?”

Kemudian saya mencari-cari alasan untuk menolak atau menerima ide ini. Satu hal yang muncul dalam benak saya adalah bahasa Indonesia merupakan bahasa pemersatu bahasa-bahasa yang ada di tiap daerah. Oleh sebab itu sudah selayaknya istilah-istilah dalam bahasa Indonesia juga bersumber dari istilah dari bahasa-bahasa daerah sehingga setiap daerah punya rasa memiliki terhadap bahasa Indonesia dan bahasa daerah tersebut tetap diingat karena istilah yang ‘dinasionalisasi’ tersebut akan digunakan di daerah lain.

Bahasa Indonesia sejak awalnya merupakan racikan yang menyerap berbagai bahasa baik pada tataran peristilahan maupun pada aturan pembentukan kata. Hal yang teringat di dalam kepala saya Bahasa Indonesia banyak mengasimilasi bahasa-bahasa asing sebagai sumber kosakata namun jarang saya ingat ada kosakata bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa-bahasa di daerah. Saya masih bisa mengidentifikasi istilah-istilah yang dulunya berasal dari bahasa Arab, Tiongkok, Melayu, Belanda, hingga Jepang tetapi lain halnya istilah-istilah yang berasal dari bahasa daerah. Kalaupun ada istilah dalam bahasa daerah yang sempat disebut selama belajar di sekolah dasar hingga menengah, sepertinya istilah-istilah atau frasa tersebut tetap dianggap sebagai bahasa daerah.

Saya pun masih merasa sangat awam mengenai topik kebahasaan namun saya suka menggunakan bahasa Indonesia. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa saya sebisa mungkin membuat tulisan-tulisan di blog ini dalam bahasa Indonesia walaupun topik yang dibahas banyak sekali mengandung istilah asing. Saya memiliki keyakinan bahwa bahasa Indonesia pada saatnya akan mampu menjadi bahasa pemersatu (lingua franca). Ide yang saya kemukakan di paragraf sebelumnya pun saya yakini merupakan salah satu cara mewujudkan hal tersebut.

Salah satu ide kontribusi konkretnya mungkin dengan membuat suatu aplikasi web yang memfasilitasi pengusulan pemadanan istilah asing berdasarkan konsensus pemilihan usulan-usulan istilah yang berasal dari kosakata bahasa daerah. Tujuan akhirnya adalah sistem yang mampu membuat usulan padanan istilah asing secara otomatis, namun saya akhirnya menyadari bahwa untuk menghasilkan sistem yang otomatis tersebut diperlukan pengetahuan mengenai makna tiap kata dalam tiap bahasa daerah. Pengumpulan pengetahuan tentang bahasa daerah ini merupakan pekerjaan yang luar biasa besar dan mustahil diselesaikan oleh segelintir orang dalam waktu singkat. Hipotesis saya adalah sepertinya pekerjaan ini cocok jika diupayakan menggunakan pendekatan gotong-royong (crowdsourcing, lihatlah istilah ini sudah ada di Bahasa Indonesia jauh sebelum istilah crowdsourcing populer digunakan seperti sekarang).



No Responses Yet to “Nasionalisasi Bahasa Daerah sebagai sumber kosakata Pemadanan Istilah Asing”

  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.142 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: