Virtual Reality Mati Suri?

Virtual Reality

VR atau Virtual Reality adalah pembuatan lingkungan virtual yang mengeksploitasi indera manusia sedemikian rupa sehingga seolah-olah penggunanya mempercayai bahwa dia sedang berada di lingkungan buatan. Kondisi mempercayai tersebut disebut dengan istilah immersive. Oleh sebab itulah suatu lingkungan virtual diukur berdasarkan derajat immersiveness-nya.

Untuk membuat lingkungan virtual dibutuhkan dua buah komponen utama selain dari pemroses informasi utama (prosesor) yaitu perangkat masukan dan perangkat keluaran. Masukan yang diolah oleh lingkungan virtual adalah aksi-aksi motorik pengguna sedangkan keluaran yang dihasilkan oleh lingkungan virtual adalah media yang mampu ditangkap oleh indera manusia meliputi visual, audio, tactile, dst.

VR dapat diaplikasikan dalam berbagai bidang seperti industri, hiburan, kesehatan, pendidikan, pengembangan SDM, dll. Peranan VR dalam bidang-bidang tersebut dapat bervariasi yang disesuaikan dengan kebutuhan aplikasi yang dibuat. Saat ini yang paling mudah dilihat dan paling luas pemakaiannya adalah visualisasi informasi. Aplikasi VR yang paling luas penggunaannya dalam masyarakat adalah aplikasi hiburan yang berupa permainan komputer. Masyarakat Indonesia sudah lama mengenal permainan komputer namun dalam pengembangan industrinya baru akhir-akhir ini muncul ke permukaan.

Geliat Pengembangan Virtual Reality di Indonesia

Penelitian dan Pengembangan VR di Indonesia saat ini masih belum terakomodasi dan terarah dengan baik. Hal ini dapat dilihat dari jumlah publikasi ilmiah dalam prosiding konferensi nasional maupun jurnal ilmiah nasional yang masih terhitung sedikit dan kemunculannya yang angin-anginan. mungkin kondisi inilah yang membuat Budi Raharjo mengira pengembangan VR di Indonesia seperti ‘mati suri’. Mungkin penyebab mati suri-nya penelitian dan pengembangan VR di Indonesia adalah belum adanya arahan dari Pemerintah kita tentang kebutuhan akan penguasaan dalam bidang ini. Sejauh ini mungkin makalah-makalah yang membahas tentang VR hanya dilatarbelakangi oleh minat pribadi atau proyek jangka pendek.

Jika kita melirik ke negara yang menjadi titik awal berkembangnya teknologi VR yaitu Amerika Serikat dan Swiss. Penelitian di bidang ini merupakan proyek besar yang didanai oleh instansi pemerintah maupun lembaga dana riset nasional. Pemerintah turut menentukan arahan pengembangan yang didasari kesadaran mengenai nilai strategis dari pengembangan di bidang ini.

Indonesia sebagai negara berkembang mungkin masih memiliki isu-isu lain yang lebih strategis sebagai potensi nasional. Walaupun demikian, di tahun ini Industri yang dekat dengan VR yaitu industri game mulai menunjukkan prospek perkembangannya lewat berbagai kegiatan yang melibatkan berbagai pemain industri serta komunitas hobbyist. Namun sikap pemerintah melihat hal ini cenderung bersifat ‘latah’. Bagaimana tidak, Tahun ini Pemerintah mendanai pembuatan program studi baru di beberapa perguruan tinggi ternama di Indonesia (ITB dan ITS) yaitu game technology dengan tingkat pendidikannya adalah magister atau Strata-2. Penentuan nama program studi sepertinya lebih menampakkan niat menjual dibandingkan mengembangkan ilmu (game merupakan istilah praktis sedangkan dunia akademik cenderung lebih cocok menggunakan istilah VR).

Seharusnya pemerintah bersikap lebih proaktif dengan membuat pusat studi terlebih dahulu untuk mengembangkan kompetensi pengajar dan pengembangan body of knowledge. Setelah hal tersebut sudah dimiliki barulah dilanjutkan dengan pembukaan program studi yang khusus mempelajari tentang bidang pendukung industri tersebut. Kalau dilihat yang terjadi sekarang justru pemerintah terkesan terburu-buru dengan langkah awalnya berupa pengembangan program studi baru yang jika dilihat lebih dekat, kurikulum yang dibuat masih belum matang dilihat dari kesiapan serta pengalaman pengajarnya. Langkah seperti ini jika dilihat dari sudut pandang target pasar pendidikan justru merugikan pemerintah dan institusi pendidikan yang bersangkutan karena mahasiswa yang akan belajar di sana hanya dijadikan ‘kelinci percobaan’ kurikulum baru yang masih juga dipelajari oleh staf pengajarnya.

Berdasarkan wawancara informal dengan beberapa praktisi pengembang game, hampir seluruhnya bersikap tidak berminat terhadap program studi baru tersebut. Sebagai perekrutan SDM baru pun, mereka masih cenderung untuk memilih lulusan Strata-1 dengan keahlian teknikal tertentu.

Mari kita lihat dari sudut pandang oposisi terhadap pemerintah. Apakah motif pemerintah dalam melakukan langkah-langkah terburu-buru ini?

  • Apakah karena pemerintah ingin mendapatkan ‘nilai rapor’ yang instan?
  • Apakah pemerintah masih ragu-ragu dengan industri ini sehingga langkahnya cenderung setengah-setengah karena mungkin pembukaan program studi baru lebih menghasilkan dibanding dengan mengadakan program riset nasional yang mungkin dianggap menghabiskan dana?

Marilah bahasan ini menjadi bahan renungan kita dan penentu kebijakan. Semoga para pejabat pemerintahan kita tidak hanya mementingkan portofolio pribadi tetapi juga memperhatikan kesinambungan program-program yang bertujuan mencerdaskan bangsa dan mensejahterakan rakyat Indonesia. Semoga dana rakyat digunakan dengan efisien dan efektif untuk kepentingan rakyat banyak.

2 comments

  1. Ping-balik: Membangkitkan Kembali Virtual Reality di Indonesia « GAIBlog
  2. awan_clickerz · Januari 5, 2009

    hiks…
    thx info nya fren

    Yup !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s