Mual dengan Rekayasa Perangkat Lunak dan Bahasa Pemrograman

disclaimer
tulisan di bawah ini hanya berisi keluhan pribadi semata disertai dengan pendapat yang sepenuhnya subjektif.

Kadang-kadang saya bosan juga dengan perkembangan industri TIK. Rasa bosan itu muncul karena saya merasa semakin lama produk berlabel teknologi IT ini makin lama semakin menjadi gundukan yang semakin besar. Walau banyak klaim menyatakan bahwa gundukan yang semakin besar ini akan mempermudah dalam penyelesaian persoalan, namun sepertinya gundukan ini tidak jarang malah menjadi persoalan tersendiri di luar persoalan yang sebenarnya ingin diselesaikan.

Saat ini yang sedang ingin saya jadikan kambing hitam adalah Teknologi Bahasa Pemrograman (termasuk di dalamnya arsitektur platform pengembangan aplikasi) dan Bidang Rekayasa Perangkat Lunak. Kedua hal ini sejak dahulu kala seringkali menjadi objek salah kaprah sehingga tidak jarang dijadikan sebagai topik debat kusir. Sebetulnya bahasa pemrograman tidak bisa terlalu dipersalahkan, karena biasanya bahasa pemrograman sering disalah-artikan dan dikait-kaitkan dengan teknologi pengembangan perangkat lunak tertentu yang menjadi pusat pembicaraan.


Rasa Mual terhadap Rekayasa Perangkat Lunak

Mungkin saya juga salah menyatakan, hal sebenarnya yang ingin saya keluhkan adalah seringnya istilah RPL (Rekayasa Perangkat Lunak) dipahami secara dogmatis dan mistis. Maksudnya adalah orang seringkali berpikir terlalu pragmatis bahwa RPL yang dimaksud adalah salah satu strategi dalam RPL yang diagung-agungkan katanya bisa menyelesaikan segala persoalan, strategi paling modern, dst. Pemistisan RPL terjadi jika persepsi anda tentang RPL adalah jika anda menguasai RPL maka bisa dipastikan anda dapat memberi solusi (khususnya perangkat lunak) kepada pihak yang membutuhkan (katakanlah client, perusahaan, dsb). no way! RPL hanya petunjuk arah dalam hutan labirin yang penuh dengan hal yang tidak pasti. RPL akan berguna dan sangat efisien jika Anda memang pernah menjelajahi hutan itu sebelumnya.

*leganya sudah memuntahkan salah satu hal yang membuat mual*

Rasa Mual terhadap Bahasa Pemrograman

Lagi-lagi yang membuat saya mual adalah salah kaprah mengenai bahasa pemrogaman. Kesalahpahaman mengenai bahasa pemrograman seringkali menjadi masalah bagi orang-orang yang baru belajar IT ataupun orang yang masih awam, apalagi orang yang sok tahu IT (:D). Language War atau debat kusir tentang bahasa pemrograman seringkali melanda para pengguna bahasa pemrograman, orang yang tidak bisa membedakan pemrograman, bahasa pemrograman, dan platform pemrograman.

Terkait dengan topik RPL adalah Paradigma pemrograman yang juga sering menjadi hal yang mistis. Bagaimana OOP (Object Oriented Programming) dikultuskan sebagai senjata pusaka yang sakti mandraguna. Belum lagi banyaknya bahasa baru yang bermunculan baik yang memang rancangan bahasa yang baru ataupun klaim bahasa baru padahal sebetulnya hanya mengganti kosakata (keyword). Mengingat kembali bahasa JAVA yang sudah sedemikian bongsor. Coba saja anda ikuti tes tentang kefasihan menggunakan bahasa ini, pasti yang lebih sering diujikan bukan pada fitur bahasanya melainkan adu luas ingatan anda tentang package-package dan class-class di dalamnya. Hal ini yang membuat saya merasa kehilangan terhadap indahnya suatu bahasa. Bahasa baru seringkali bukan sesuatu yang baru, hanya berupa kombinasi dari bahasa-bahasa pendahulunya dengan mewariskan tidak hanya manfaat tapi juga penyakit-penyakitnya. pekerjaan memrogram menjadi hal yang bertele-tele (tedious) sehingga makna spiritualnya menjadi hilang.

Saya sempat memikirkan untuk membuat bahasa baru yang sederhana dalam artian fitur yang tidak terlalu menghabiskan memori, tapi cukup fleksibel baik untuk persoalan kecil maupun persoalan yang besar (kompleks) yang maksudnya adalah kesederhanaan/elegan berekspresi yang dibutuhkan untuk berbagai skala masalah. Sempat mengaitkan antara C dan LISP (hipotesis saya adalah C menjadi bahasa yang awet muda *halah istilahnya* karena punya sifat yang sama dengan LISP tanpa stress akibat token ‘(‘, dan ‘)’ yang bentuknya kurang estetis dibandingkan ‘{‘ dan ‘}’, hehehe).

Basis perancangan bahasa baru (baru diimpikan) ini terinspirasi dari ide Spiritual Computing yang dilontarkan Pak Armein. Saya ingin bahasa pemrograman yang baru ini membuat pemrograman memiliki nilai spiritual dalam setiap ekspresinya. Walaupun mungkin masih berwujud mimpi, saya pikir cukup untuk menuliskannya di sini sebagai langkah awal mewujudkan mimpi tersebut (langkah selanjutnya mungkin menempelkan tanggal deadline ke mimpi ini ya?).

😀

6 comments

  1. Ali Akbar · April 20, 2008

    hmmm.. aku sih lagi senang python dengan [ ], { } dan () yang masing-masing punya arti beda😀

  2. andriyan · April 21, 2008

    sepertinya Pebbie sudah hampir tiba di tingkatan Zen🙂
    — salam kenal lagi, andriyan (yang dengan tombol-2 di wordpress pun masih pusing)

  3. hamuro · Juni 13, 2008

    Akhirnya nemu juga blogger dengan hoby yg sama… Ngomong2 mana posting barunya ya…

  4. irfin · Januari 14, 2009

    pemikiran yg menarik

  5. dk-master · Februari 23, 2009

    Language war atau debat bahasa pemrograman menurut saya bagus, biar bangsa ini lebih maju. Kalau lurus-lurus saja, ndak maju-maju.

  6. pebbie · Februari 23, 2009

    @dk-master: hehe.. kalau menurut saya memperdebatkan bahasa pemrograman jelas bodoh.. memperdebatkan sesuatu yang tidak seimbang sejak awal (tujuan perancangan bahasanya)..

    btw, boleh tau alasan lain yang lebih relevan mengapa mendukung language war?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s