Studi lanjut di Indonesia atau di Luar Negri?

Sejak kecil saya kagum dan sempat bercita-cita untuk melanjutkan pendidikan tinggi ke luar negri. Ada beberapa hal yang memotivasi saya untuk melakukan ini diantaranya :

  • Akses Pengetahuan yang lebih kaya. saya berkeyakinan bahwa di luar negri sana, sudah banyak riset yang dilakukan sehingga cakupan pengetahuannya sudah cukup luas. Pada sudut pandang eksternal (institusi), sepertinya di luar juga tidak mengalami hambatan dalam mengakses dokumen-dokumen ilmiah yang dijadikan acuan perkembangan saat ini sehingga mempermudah kontribusi (mengurangi redundansi pekerjaan atau reinvent the wheel).
  • Banyak universitas di luar negri yang menawarkan beasiswa. (hal ini yang kuat menggiurkan). Mengingat biaya studi lanjut tidaklah murah.
  • Komunitas ilmiah lebih mudah diakses. Kalau yang ini baru perkiraan saya saja. Maksudnya adalah interaksi antar peer di luar lebih aktif, untuk bidang yang khusus pun pelakunya cukup banyak, sehingga diskusinya menjadi lebih kaya (lebih banyak inspirasi).
  • Gelar lebih diakui. kalau yang ini sebisa mungkin dihindari. walau secara esensial pengakuan ini tidak begitu penting (Perbuatan Riya’ dilarang di Qur’an). Tapi dalam rangka melakukan perubahan di masyarakat ke arah yang lebih baik, pengakuan publik menjadi salah satu potensi yang tidak bisa ditiadakan (apalagi di Indonesia, :P).


Di akhir masa kuliah dan setelah lulus S1 pandangan saya mengenai studi lanjut menjadi agak berubah. Sepertinya timbul keinginan untuk melanjutkan studi dengan tetap berada di Indonesia. Keinginan ini bukan disebabkan tidak ingin membuka wawasan ke luar negri. Saya juga tidak ingin seperti katak dalam tempurung. Hal-hal yang menyebabkan keinginan saya melanjutkan studi di indonesia merupakan gabungan dari pertanyaan dan pernyataan yang saya yakini.

  • Kalau saya studi di luar negeri. berarti pekerjaan (riset, tesis) itu menjadi hak kekayaan intelektual instansi luar negri? bukankah kita sering mengeluh kualitas pendidikan negara kita yang menggunakan parameter riset, publikasi ilmiah, dan HAKI yang tidak sebanyak negara-negara lain?
  • Kalau orang-orang yang memiliki potensi akademis yang tinggi (mudah-mudahan saya termasuk diantaranya) melakukan studi magister atau doktoral di luar negeri, lalu kita membuang potensi yang dimiliki oleh bangsa ini? *sama sekali tidak bermaksud menyatakan bahwa yang studi di Indonesia bukan bagian dari yang memiliki potensi akademik yang tinggi*
  • Saya mendengar bahwa ITB ingin menjadi universitas kelas dunia yang saya artikan bahwa ITB memiliki daya saing yang sama dengan universitas lain di dunia terhadap perkembangan sains dan teknologi. Sementara di lain pihak, sumber daya yang dimiliki oleh ITB sebagai institusi pendidikan adalah staf dosen dan mahasiswa tingkat lanjut (magister dan doktoral). Bagaimana ITB bisa mencapai status universitas kelas dunia dengan akselerasi yang signifikan jika lulusan itb ‘diekspor ke perguruan tinggi di luar negri’.
  • Hal lain yang saya amati adalah, setiap dosen yang kembali dari luar negri datang dengan membawa topik baru (memang ini hak individu sih). Dalam kesempatan riset, maka yang terjadi adalah kompetisi. Padahal yang dibutuhkan adalah adanya saling mengisi sehingga penelitian suatu instansi bukan menjadi rangkaian sungai-sungai kecil yang bermuara di satu ujung (tema ketua pusat penelitian) melainkan menjadi suatu sunga besar yang di setiap daerah yang dilewatinya bisa ditemukan ikan yang sehat dan memiliki banyak manfaat. Pendek kata, pengembangan body of knowledge menjadi bercabang-cabang sehingga menjadi dasar yang kurang kuat (alasan yang mungkin masih bisa dibantah oleh para ahli jembatan, :D).
  • Persoalan-persoalan yang terjadi di masyarakat tidak melulu menggunakan teknologi state-of-the-art. Hal yang menurut saya lebih prioritas di Indonesia adalah menumbuhkan aktivitas ekonomi yang nantinya akan mempermudah penyerapan bahkan mungkin pencapaian state-of-the-art oleh kita sendiri.

Kalau menurut anda bagaimana?

8 comments

  1. dzaia-bs · April 22, 2008

    it is worth it to study abroad…
    mumpung masih muda peb…
    kalo bisa ber-2 sama istri, biar ada yg nyemangatin kalo lagi down,
    soalnya tugas2nya lebih “gila” n bisa bikin patah semangat alias menyerah sebelum bertanding…

  2. iang · April 22, 2008

    abis dari luar, ya balik lagi membangun bangsa. jadi, istilahnya bukan “ekspor” namun “ngumpulin modal”😛

    banyak pengalaman yg cuma bisa didapet di luar negeri, salah satunya adalah mengenal budaya di sono. seperti apakah orang-orangnya kok bisa “hebat”? yg kaya gini kan perlu dicontoh juga.

    ~just my 2 euro cents

  3. tresna · April 23, 2008

    Peb pa kabar? Saya setuju tuh sama Iang (hi hi hi, kaya tz kenal aja :D)
    kalo kesempatannya memang ada knp ngga? apalagi dengan kelebihan2 yang sudah peb utarakan (akses pengetahuan, komunitas, dll..) tentunya yang didapatkan bisa jauh lebih banyak.

    Kalo soal riset yang dilakukan selama kuliah disana, ya anggap aja itu sebagai timbal balik dari kesempatan yang didapatkan. Toh, riset tidak berhenti disitu kan? Justru diharapkan setelah pulang ke Indonesia bisa melakukan riset yang jauh lebih banyak dan lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat di sini dengan berbagai bekal ilmu yang sudah didapatkan🙂

  4. ahmy · April 23, 2008

    kalo aku masi pengen kul di luar negri.. blum dapet alesan kenapa disini.. tapi yah semuanya back to rejeki ;))

  5. Ali Akbar · April 26, 2008

    untuk poin 1 dan 3 alasan kuliah di luar negri di atas, dulu beda sama sekarang.. dengan adanya internet, gap akses pengetahuan dan kemudahan mengakses komunitas ilmiah menjadi jauh lebih berkurang.. yang dulu hanya bisa dikontak dengan tatap muka dan/atau telepon, sekarang tinggal memakai email.. dan sebagainya.

    @iang
    di satu sisi seperti itu.. tapi di sisi lain, ketika pulang ke indonesia, karena terbiasa budaya di sana, apa nggak susah lagi menyesuaikan dengan budaya di sini?

    ~ ini hanya hasil pengandaianku belaka. tanggung sendiri nilai kebenarannya😛

  6. Strife Leonhart · Mei 6, 2008

    *mikir*
    mo kuliah di mana ya?

  7. iang · Mei 20, 2008

    @ali akbar: justru budaya2 yg baik harus ditularkan di indonesia🙂

  8. duNk !! · Agustus 3, 2008

    trus klu mahasiswa luar yg mo abroad ksini gimana tuh?
    *mengernyitkan dahi*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s