ITB kehilangan salah satu putra terbaiknya

Pagi ini merupakan senin kelabu bagi komunitas STEI ITB khususnya Informatika. Pagi ini saya mendapat sms yang mengabarkan hal ini dari Mas Arif dan Pak Iping. Jantung saya berdegup kencang sampai akhirnya bisa tenang dan jam 9.15 saya berangkat ke kampus yang ternyata tidak ada kuliah dan saya bersama mahasiswa S2 IF angkatan 2008 berangkat melayat menuju kediaman keluarganya di Arcamanik. Sampai di sana ternyata jenazah beliau sudah akan disholatkan. Akhirnya saya langsung mengikuti iringan mobil menuju masjid yang dimaksud yang kemudian langsung dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Nagrog di Ujung berung. Karena saya membawa sepeda motor, saya ingin mengantar (alm) Pak Farid di samping mobil ambulans yang membawanya menuju kediamannya yang terakhir. Sampai di sana saya pun segera mencari posisi di dekat makam agar saya bisa melihat beliau dikuburkan. Saya tak kuasa menahan air mata haru ketika Pak Prof. Adang Suwandi Ahmad memberikan sambutan. Masih tak percaya rasanya mendengar kabar duka ini. Padahal kamis yang lalu masih sempat berkomunikasi dengan beliau bersama Pak Iping ketika akan berangkat menuju Gedung CCAR untuk sosialisasi penelitian strategis nasional dari DIKTI.

Saya pribadi pertama kali berinteraksi dengan Pak Farid adalah ketika kuliah Jaringan Komputer. Ketika itu saya sangat menikmati gaya beliau mengajar walaupun saya sering datang terlambat sehingga tidak diijinkan masuk. sampai akhirnya ketika masa UTS tiba, saya sakit dan karena kehadiran yang kurang saya ‘divonis’ mengulang mata kuliah tersebut. walaupun begitu saya masih menikmati kuliah pasca UAS karena masih ingin mempelajari materi kuliah. Interaksi berikutnya adalah ketika mengambil mata kuliah pilihan Sistem Multimedia di tahun ke 4 yang pertama kali dibuka waktu itu dan diajar oleh Beliau. Kuliah waktu itu merupakan kuliah yang sangat berkesan, karena waktu itu saya tergerak oleh nasihat beliau tentang cara dan pola berpikir yang kritis. Waktu itu saya sudah merasa cukup dengan pola pikir saya ketika itu, tetapi ternyata setelah mendengar nasihat dan cerita beliau saya merasa diingatkan bahwa saya masih perlu banyak belajar. Ketika itulah titik balik dari pribadi saya yang masih sering bermain-main menjadi lebih serius. Cerita lainnya adalah ketika kami mengikuti kegiatan riset dari ditjen postel depkominfo yang kala itu dua kali diadakan di Bogor. Walaupun kami tidak dalam tim riset yang sama, saya masih sempat ‘belajar’ dari beliau dari bincang-bincang sembari menunggu acara mulai yang memang tertunda beberapa jam. Interaksi terakhir adalah di Semester 1 yang lalu ketika Beliau mengajar di Mata kuliah Sistem Berkinerja Tinggi (High Performance Computing) yang lagi-lagi baru dibuka (kelas pertama). Walaupun ketika itu para dosen khususnya Ketua KK Informatika sempat mengkhawatirkan beliau yang sedang masa pemulihan dari stroke karena tetap bersikeras mengajar. Inilah kuliah terakhir dari beliau yang paling berkesan, walau kadang-kadang kami sebagai anak-anaknya masih sering nakal seperti terlambat atau lupa mengerjakan tugas tapi suasana kelas masih tetap menyenangkan.

Walaupun hingga saat ini Program studi informatika belum mempunyai guru besar (professor emeritus), dan beliau pernah bercerita bahwa beliau berkeras untuk tidak mendapatkan gelar ini karena sikap tegas dalam menentang sistem keprofesoran di Indonesia. Beliau menyatakan bahwa beliau tidak mengurus gelar profesor karena alasan pribadi dan tidak mengurus syarat2 mendapatkan gelar sejak tahun 1991. Walaupun demikian rekan sejawatnya khususnya Elektro ITB angkatan 70 seperti Prof. Adang Suwandi Ahmad yang sekarang menjabat sebagai dekan STEI sudah menjadi guru besar sehingga dapat dipahami bahwa kalaupun beliau menginginkan untuk menjadi guru besar, pun saat ini beliau sudah mendapatkan gelar tersebut. Sebagai institut pendidikan yang pertama kali membuka program studi informatika di Indonesia, memang agak aneh kalau Informatika ITB sampai saat ini belum memiliki guru besar. Walaupun mungkin di universitas lain program serupa sudah memiliki lebih dari 3 atau bahkan alumni informatika itb sudah ada yang menjadi profesor baik di dalam maupun luar negri. Tampaknya memang, gelar guru besar bagi komunitas informatika itb memiliki makna tersendiri yang cukup dalam di hati murid-muridnya. Dr. Farid Wazdi adalah teladan, bahwa seorang guru besar tidak perlu sebuah gelar yang diakui negara. Seorang guru besar, telah mendapat gelar tersebut di setiap benak murid-muridnya dan menurut saya seperti itulah makna sejati dari ‘guru besar’.

Selamat jalan Pak Farid, semoga Bapak dapat menghadap Sang Pencipta dalam keadaan damai dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan. Kami akan selalu mengingat cerita dan semangat Bapak dalam kehidupan kami di dunia informatika.

4 comments

  1. ipam · Februari 10, 2009

    baca tulisan km jadi super terharu peb….
    jadi inget jaman2 kuliah dulu, Jarkom & sismul
    saya sering kali kesulitan mengikuti gaya berpikir beliau,
    yang unik, cara berpikir beliau yang beda
    tapi saya tetep gembira diajar beliau
    ada nuansa khas di kelas beliau, yg ga ada di kelas-kelas lain

    nyesel banget kemarin baru dapet info senin malemnya…..
    selamat jalan pak Farid, semoga amal ibadah bapak diterima di sisi Allah SWT,
    semoga ilmu yg kita dapat dari beliau menjadi amal jariyah baginya.
    Amin…

  2. Agung · Februari 13, 2009

    Iya Peb, pas Jarkom kita diajak mikir cara kerja sederhananya ketimbang teknisnya, agak beda jadi serasa refreshing dari kuliah lain :p. Semoga amal beliau diterima di sisiNya…OOT:Pantes nampak ada perubahan pada dirimu Peb, tapi btw emang dulu kurang serius ya :p

  3. arifrahmat · Maret 16, 2009

    Retorika yang sistematis tetapi disampaikan dengan gaya yang santai adalah ciri khas beliau. Semoga beliau tenang di alam selanjutnya, dan ilmu yang kita dapat dari beliau dapat menjadi manfaat bagi kita dan bagi beliau.

  4. marsani · Mei 3, 2009

    turut berduka cita.. sy tidak dekat dengan beliau. Tapi saya mengenal nama besar, dedikasi dan tulisan2 nya.. semenjak kuliah.
    sekali lagi sy turut berduka cita. yang mendalam dari saya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s