Bloated Computing : A Collective Crime

Hukum Moore menjanjikan kapasitas komputasi yang semakin lama semakin besar. Tetapi kemajuan terhadap state-of-the-art dan dampak terhadap kehidupan end-user belum tentu meningkat dengan laju yang sama. Beberapa penyebab terjadinya hal ini antara lain faktor ekonomi yang tidak dapat dipisahkan dari industri teknologi yang menjanjikan agar setiap perubahan kemajuan dapat berjalan perlahan tetapi berkesinambungan. Ekonomi menjadi keran pengontrol terhadap teknologi yang dapat dinikmati oleh setiap orang. Hal yang sebetulnya diinginkan bukanlah teknologi melainkan manfaat dan dampaknya terhadap kehidupan dan kemanusiaan. Pada titik tertentu, fungsi keran pengontrol yang secara abstrak menjadi model antrian M/M/1 tentu akan mencapai kejenuhan yang menjadi bottleneck yang memisahkan antara manusia yang semakin lapar akan manfaat dan eksplorasi ilmiah yang menanti untuk diwujudkan.

Bloat, yang dalam bahasa indonesia mirip dengan istilah kembung (pada perut) yang maknanya adalah penumpukan zat-zat yang mengantri untuk dicerna. Dalam konteks teknologi khususnya komputasi istilah bloat lebih tepat dimaknakan sebagai fenomena tambal-sulam yang selama ini terjadi sejak awal industri komputasi tetapi sengaja ditutup-tutupi atau didogmakan untuk dimaklumi sebagai bagian dari perkembangan ke arah yang lebih baik.

Bayangkan sebuah teknologi yang memungkinkan orang untuk bertukar kata di tempat yang berbeda jika dilihat sebagai rangkaian teknologi di bawahnya menjadi sebuah koleksi benda-benda yang saling terhubung dalam suatu kekacauan yang dilihat dari luar sebagai keteraturan (bahkan mungkin kenyamanan jika kedua orang yang terlibat memiliki hubungan emosional). Jika disederhanakan, maka teknologi yang terlibat dapat dikelompokkan menjadi Perangkat keras, Perangkat lunak, dan mekanisme dan media telekomunikasi (hal ini tidak akan dibahas mengingat telekomunikasi pun dapat dideskripsikan menggunakan HW dan SW).

Contoh produk yang termasuk perangkat keras adalah Prosesor. Kalau kita merefleksikan perkembangan arsitektur prosesor dan implementasinya, kita akan mendapatkan salah satu babak mengenai dua buah arsitektur yang menonjol yaitu CISC dan RISC. Arsitektur RISC dimunculkan akibat arsitektur CISC yang semakin lama semakin mengganggu (bloated, if i may say so) akibat kompleksitasnya. Salah satu alasan penentang CISC adalah pihak produsen CPU yang berbasis arsitektur CISC disinyalir melakukan praktek semi-monopoli yang lebih tepatnya membuat tuas untuk mengendalikan pasar CPU dan industri di atasnya. Walaupun pada akhirnya konsensus menyetujui bahwa arsitektur RISC lebih baik dari CISC dari beberapa parameter yang dianggap signifikan, saat ini kita masih menjumpai prosesor yang menggunakan arsitektur CISC (walaupun implementasi di dalamnya menggunakan RISC).

Dalam dunia perangkat lunak kejadian bloat bisa lebih radikal dibanding pada perangkat keras. Kunci penyebabnya terletak pada awal sejarahnya yaitu mesin turing yang dalam sebuah konjekturnya menyatakan bahwa hampir semua jenis ‘komputer’ dapat disimulasikan atau diemulasikan menggunakan mesin turing universal. Fenomena ini secara nyata sudah dijelaskan dalam dunia perangkat keras pada contoh prosesor di atas. Fenomena yang dijelaskan menggunakan mesin turing tersebut secara sederhana adalah memungkinkan kita untuk membuat infrastruktur komputasi sebagai kumpulan teknologi yang bertumpuk berlapis-lapis.

“so what? bukankah cara tersebut (tumpukan berlapis) bertujuan untuk mempermudah?”. Well, menjadi ignorant memang seringkali ‘menyenangkan’. Analogi dari tumpukan berlapis tersebut adalah birokrasi, agar dapat berjalan seperti yang diharapkan maka pada masing-masing lapisan dibuat batasan-batasan. Meskipun pembatasan tidak selamanya buruk, pembatasan pun tidak selamanya baik. Pertanyaannya adalah, sudah setinggi apakah tumpukan lapisan tersebut dan seberapa luas ruang ekspresi manusia dibanding ruang-ruang yang digunakan untuk membatasinya? kaitkan dengan jargon-jargon komputasi seperti cloud computing dan virtualisasi.

sebagai penutup, mari lihat salah satu contoh interpretasi dari jargon cloud computing yang memanfaatkan virtualisasi. The interpretation itself has nothing wrong with it, the problem is the implication related to computing in rural areas. Do we really gonna charge rural people for the bloated technology that we bring just for something that actually can have much leaner and cheaper implementation? if there’s no one to answer therefore i would be the first person to say NO. if we really would like to help them (not conversely, help ourself with burden sharing) then we should use our head to skim the technology first before we give to people in rural areas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s