sleep++ : an old-school sci-fi

Semasa SMA dulu saya sangat tertarik dengan euphoria dunia sains dan teknologi. Masa-masa yang sangat indah ketika bisa bebas bermimpi tentang teknologi tanpa terbebani dengan bagaimana mewujudkannya menjadi sebuah benda nyata yang fungsional. Pada suatu ketika saya ditugaskan untuk membuat sebuah brosur produk. Waktu itu saya terpikir untuk sebuah produk khayalan yang bisa membantu menyerap informasi dari buku tanpa perlu menghabiskan waktu untuk membaca melainkan bisa dilakukan sambil tidur. Ide ini didasari dari kebiasaan saya menghabiskan waktu istirahat untuk membaca buku-buku di perpustakaan sekolah dan kebiasaan tidur di kelas (biarpun duduk paling depan) pada saat jam pelajaran.

Beberapa waktu terakhir tampaknya mimpi waktu itu datang kembali, hanya saja kali ini sepertinya ada kesempatan untuk menyelidiki lebih lanjut apakah ide tersebut bisa diwujudkan atau tidak. Saya sendiri menganggap ide saya waktu sma tersebut masih mungkin diwujudkan setelah mempelajari beberapa informasi mulai dari model-model kemampuan berpikir dari bidang artificial intelligence, fisiologi otak dari perkembangan ilmu biomedik dan neuroscience, serta sedikit pengetahuan mengenai fisika (elektromagnetik) -kimia (organik dan molekuler).

Pada dasarnya untuk mewujudkan ide di atas adalah dengan membuat model kognitif manusia sebagai mesin komputasi atau dengan kata lain mensimplifikasi otak manusia sebagai komputer konvensional (von neumann). Alur proses yang terjadi antara lain :
– akuisisi informasi dari sumber fisik (buku)
– transfer informasi tersebut menjadi informasi yang disimpan dalam filesystem otak pada lokasi yang sesuai.
proses di atas diasumsikan representasi informasi yang digunakan di otak, fungsi untuk mentransformasi representasi informasi dan mentransfer informasi ke dalam otak, dan pemetaan organisasi informasi di otak sudah diketahui. Ketiga asumsi tersebut sudah ada beberapa teori serta studi yang dilakukan tetapi mungkin masih jauh dari cukup.

Otak manusia bisa didekomposisi berdasarkan fungsi dan anatominya. Sesuai dengan konteks di atas, Fungsi untuk pembelajaran dan memori dipercaya berada pada bagian hippocampus, cerebral cortex, cerebellum, dan amygdala. hippocampus merupakan bagian yang banyak dipelajari terkait dengan fungsi ingatan. cerebellum atau otak kecil dipercaya berfungsi mengendalikan sistem motorik. amygdala dipercaya mengendalikan informasi yang terkait ingatan respon emosional. cerebral cortex, di lain pihak mengendalikan ingatan-ingatan yang terkait dengan informasi sensorik, dan ingatan lainnya. cortex, kalau tidak salah ingat juga banyak menginspirasi teknik-teknik dalam computer vision.

Dari keempat bagian dari otak tersebut, yang banyak dipelajari khususnya mengenai ingatan adalah hippocampus dan neocortex. Hebb menganjurkan sebuah teori mengenai pembentukan ingatan sebagai hubungan antara dua buah sel syaraf (sinapsis) yang diberi rangsangan secara simultan yang menjadi pedoman dalam perkembangan teknik artificial neural network (Hebbian learning). Berdasarkan teori ini, ingatan (baik jangka pendek maupun jangka panjang) dianggap sebagai struktur keterhubungan antar sel. Ternyata, ada mekanisme lain yang juga berperan dalam ingatan khususnya ingatan jangka panjang. Todd Sacktor – Profesor neurologi dari amerika – mengungkap mekanisme molekuler yang mengelola “data center” tersebut yaitu enzim isoform protein kinase C bernama protein kinase MZeta (PKMZeta). Studi lebih lanjut menunjukkan dengan menggunakan obat untuk menghambat kerja protein tersebut berdampak pada kehilangan ingatan terhadap hal yang telah dipelajari selama satu hari, dan bahkan sebulan sebelumnya. obat penghambat tersebut tidak berdampak permanen atau menimbulkan kerusakan pada otak. Beberapa publikasi lanjutan dari Dr. Sacktor menjabarkan tentang jaringan regulatori enzim tersebut yang diharapkan dapat membantu usaha pengobatan penyakit seperti alzheimer.[1]

Untuk mewujudkan rekayasa otak diperlukan hal-hal seperti : pemahaman mengenai mekanisme kerja otak dari tataran molekuler hingga fenomena abstrak seperti ingatan dan perilaku, instrumentasi untuk pengukuran aktivitas yang terjadi di otak, dan instrumen untuk memanipulasi aktivitas otak. Ada berbagai macam teknik yang saat ini diketahui untuk melakukan stimulasi aktivitas di otak baik berupa implantasi perangkat yang berfungsi sebagai “pacu otak” (deep brain stimulation) maupun perangkat yang hanya perlu dikenakan (wearable) yang berbasis pada gelombang elektromagnetik (transcranial magnetic stimulation). Ada juga gosip yang beredar tentang pengembangan alat untuk komunikasi telepati buatan untuk kepentingan militer[2].

Mudah-mudahan di masa depan kita sempat merasakan teknologi ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s