Kenapa Informatika ITB?

Tulisan ini dibuat untuk berpartisipasi dalam gerakan cerita yang ada di sini.

Sesungguhnya Saya tidak pernah membayangkan untuk menempuh studi di bidang Informatika, apalagi hingga menjadi dosen di bidang yang sama. Sejak sekolah dasar Saya sudah akrab dengan elektronika karena sering dimintai tolong untuk membeli komponen di toko oleh Paman yang hobi mengutak-atik elektronik. Bahkan ketika masuk SMP dan ada mata pelajaran Elektronika, saya sangat senang walaupun sebetulnya mata pelajaran tersebut terhitung sebagai muatan lokal.

Komputer pada masa itu bukan barang yang lazim di lingkungan saya. Saya hanya tahu bahwa komputer itu adalah untuk bermain game (prince of persia & paratrooper) dari teman main yang juga tetangga. Ada pula pengalaman traumatik ketika mencoba komputer sepupu yang kala itu masih baru ternyata saya malah jadi merusak sebagai penular virus dari disket yang digunakan di sekolah.

Ketertarikan dengan elektronik ditambah dengan rasa penasaran karena tidak bisa memahami buku yang saya baca di perpustakaan sekolah ketika SMP akhirnya mendorong saya mempelajari Buku Kimia milik kakak saya yang sudah bersekolah di SMA. Kala itu faktor pendorongnya adalah komponen yang bernama IC. Ketika saya SMP, komponen IC itu adalah komponen yang tidak pernah bisa saya pahami fungsinya dibandingkan dengan komponen lainnya. Jadilah ketika SMA saya justru lebih tertarik pada mata pelajaran Kimia. Beruntung di sekolah saya waktu itu (SMA 8 Jakarta) ada organisasi ekstra kurikuler tentang teknologi bernama Teksound yang salah satu minatnya adalah elektronik. Waktu itu saya masih tidak paham dengan komputer dan masih asik dengan elektronika. Hal yang saya mengerti tentang komputer adalah barang elektronik yang ada ‘virus’, ataupun membuat semacam mading elektronik (website).

Sampai akhirnya saya berkenalan dengan teman (sekarang almarhum) yang ‘terkenal’ sebagai ahli komputer di sekolah. Saya banyak belajar lewat buku-bukunya dan begadang di akhir minggu ngoprek komputernya (Walaupun sebetulnya lebih sering main bareng game RTS, Command & Conquer, Starcraft, Krush Kill n Destroy). Waktu itu saya baru tahu tentang Linux karena diperlihatkan di komputernya (SuSe).

Kembali ke cerita tentang ekstrakurikuler bernama Teksound. Waktu itu juga seorang alumni yang kuliah di Teknik Elektro ITB ‘memerintahkan’ untuk ikut lomba aplikasi mikrokontroler di ITB. Saya yang kaget sekaligus bingung karena baru kali itu saya mendengar istilah ‘mikrokontroler’. Akhirnya saya coba gali di perpustakaan sekolah. Buku yang saya temukan waktu itu isinya tentang elektronika digital hingga merangkai mikroprosesor (SAP-Simple As Possible) dari IC TTL 74xx. Saya pikir waktu itu sudah cukup dekat dengan hal yang dicari (mikrokontroler). Pada akhirnya, walaupun tidak jadi ikut lomba tersebut, saya jadi keterusan mempelajari tentang komputer, HTML 3 (waktu itu HTML4 masih baru dan trennya adalah menggunakan image), dan bahasa pemrograman (BASIC & Pascal).

Hingga pada tahun 2000, Informatika ITB mengadakan lomba pemrograman tingkat nasional bernama ICG (Informatics Challenge Game). Waktu itu saya diajak oleh kakak kelas yang pernah menjadi Tim Olimpiade Komputer (Anugrah Redja Kusuma, IF 2001). Dengan
Sedikit pengetahuan tentang pemrograman dan beberapa kali latihan soal saya nekat ikut. Waktu itu saya tidak berperan banyak, sehingga lebih tepatnya saya banyak belajar langsung by experience pada saat lomba. Walaupun dulu tidak menang (hanya lolos sampai final bersama 4 tim lain), saya justru jadi terpicu untuk ikut lomba serupa sepulang dari Bandung.

Waktu itu saya mengajak 2 orang anggota baru Teksound yang masuk 1 tahun setelah saya untuk ikut lomba pemrograman yang diadakan di sekolah lain. Kala itu Sekolah yang rutin menyelenggarakan lomba pemrograman adalah Kolese Gonzaga dan Kanisius. Pengalaman pertama lomba bersama tim PIP (Peb, Iang (Fajran-IlkomUI2002-CS Univ van Amsterdam), Prima-Primbon-mbon-CS NTU 2002-CS Univ Waterloo 2010) walaupun tidak mendapat juara pertama tetapi masih masuk kategori juara. Selanjutnya adalah sejarah, ikut lomba kesana-kemari termasuk di Univ. Bina Nusantara dan membawa pulang piala ke sekolah.

Tahun berikutnya situasinya menjadi sedikit mengecewakan karena seleksi Tim Olimpiade Komputer pada waktu itu hanya menerima maksimal siswa kelas 2 sedangkan saya pada waktu itu sudah kelas 3 SMA. Akhirnya, saya masih tetap rajin ‘kabur dari kelas’ untuk lomba. Tapi berganti mulai dari lomba tentang kimia, hingga lomba tentang bahasa, kebanyakan memang cerdas cermat. Saya lupa cerita kalau sewaktu SMA saya beberapa tahun menjadi juara cerdas cermat tentang komputer yang diadakan salah satu STMIK di Jakarta hingga sempat ‘diprotes’ oleh sekolah lain.

Pada akhir masa sekolah dan Ujian, tibalah saatnya untuk menentukan pilihan masa depan yaitu pilihan jurusan kuliah melalui SPMB (Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru). Kalau dulu sebelum SMA saya membayangkan ingin kuliah di Teknik Elektro ITB, saat itu pilihan pertama saya adalah ke Informatika ITB. Persoalan selanjutnya adalah pilihan keduanya, waktu itu memilih Teknik Elektro ITB sebagai pilihan kedua dapat dikategorikan nekat. Apakah diterima di pilihan pertama atau tidak diterima di keduanya. Akhirnya pilihan kedua jatuh sesuai dengan minat saya yang lain (Kimia) yaitu Farmasi ITB. Mengapa ITB, waktu itu saya tidak punya alasan yang bagus. Saya jenuh dengan Jakarta (setelah tumbuh besar selama lebih dari 10 tahun) tapi juga tidak ingin jauh dari Jakarta. Waktu itu Bandung tampak sebagai pilihan yang cukup menarik dari sudut pandang lingkungan dan cuaca (dulu Bandung masih sejuk dan di dalam kota hampir tidak ada kendaraan besar, angkotnya tidak separah Bogor).

Mengapa tidak luar negeri? Hehehe, saya cukup sadar diri. Karena ketertarikan dengan beberapa mata pelajaran atau bidang non-kurikuler, nilai-nilai di mata pelajaran lain jadi agak terbengkalai terutama mata pelajaran sosial (Sejarah, Geografi, Ekonomi, Akuntansi, PPKn, Sosiologi. Oke, hampir setengah jumlah mata pelajaran ketika SMA). Hasilnya, nilai rapor waktu itu tidak cukup untuk melamar beasiswa ke Jepang atau Singapura.

Karena sudah cukup panjang, saya sudahi dulu sampai di sini. Cerita tentang kehidupan dan mata kuliah di Informatika saya lanjutkan di lain kesempatan. Termasuk cerita mengapa akhirnya saya memilih melanjutkan kuliah di bidang yang sama yaitu Informatika dan di tempat yang sama yaitu di ITB dan menjadi pengajar di alma-mater.

2 comments

  1. za · April 26, 2012

    Wah, dah kenal Iang dari SMA berarti ya Peb. *baru tahu* Perjalanan yang menarik Peb, untuk hingga akhirnya menjadi dosen sekarang.

    • pebbie · April 26, 2012

      hehe. itu baru sampai masuk informatika. cerita menuju jadi dosen masih ada lagi *spoiler*šŸ˜€

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s