18987246346_740dae66b6_o

#JuliNgeblog Der dritte Tag : Ramadhan in Wien

Tulisan kali ini ditulis setelah sahur. Jam di pojok layar menunjukkan pukul tiga lewat lima menit. Pertanda sudah masuk waktu mulai puasa hingga nanti buka jam sembilan sore.

Ya, puasa di belahan bumi eropa yang sedang dalam musim panas memang sedikit lebih panjang ketimbang puasa di tanah air. Tahun ini adalah tahun ke-empat sejak saya menjejakkan kaki di tanah yang penuh cerita sejarah masa lampau ini. artinya, ini kali keempat saya menikmati puasa dengan durasi sekitar 18 jam. Enam jam lebih lama dibanding biasanya.

Setelah kemarin menulis hal yang terlalu teknis sehingga mungkin sulit dinikmati oleh khalayak. Kali ini saya akan mencoba membuat tulisan yang lebih santai. Walaupun hari ini masuk tanggal ke-28 ramadhan, Sepertinya masih belum terlalu basi untuk membahas tentang bulan yang sering dikenal sebagai “bulan puasa”.

Memasuki tulisan ketiga, saya terpikir bagaimana supaya bisa konsisten untuk tetap menulis hingga hari ke-31 nanti. Sepertinya kalau saya membuat tulisan yang bersifat monoton setiap hari, saya akan cenderung bosan maksimal di minggu pertama. Jawaban yang terpikir saat ini yaitu membuat tulisan dengan tema berbeda setiap harinya.

Tulisan kemarin, sebetulnya sudah lama ingin dituliskan namun baru kali ini akhirnya benar-benar terpaksa hingga akhirnya berhasil menekan tombol Publish!. Bahkan kemarin pun hampir lupa untuk membuat tulisan. tahu-tahu sudah menjelang jam 4 siang dan godaan untuk procrastination datang seiring gelombang lapar yang mulai menggelitik.

Kembali ke tajuk utama tentang ramadhan. Berpuasa di negeri orang yang mayoritas bukan muslim memang memberikan nuansa yang lain. Tidak ada suara-suara gaduh anak-anak yang memukul bedug dengan riuhnya berkeliling untuk membangunkan sahur. Apalagi suara bedug dan adzan magrib yang terdengar dimana-mana.

Di sini, norma umum yang berlaku adalah suara gaduh maksimal dibolehkan hingga jam sepuluh malam kecuali mungkin malam sabtu atau malam minggu. itupun mungkin paling lama jam 1 malam sebelum diprotes tetangga. Pemukiman yang berbasis apartemen membuat urusan antar individu langsung diurusi oleh polisi, tidak ada Pak RT apalagi hansip.

Jelang siang, apalagi di musim panas seperti ini, definisi istilah sandang menggunakan ukuran volume dan densitas turun drastis dibandingkan ketika musim dingin. implikasinya silakan dibayangkan sendiri. Godaan puasa selain cuaca dan durasi adalah faktor stimulan panca indera yang makin rumit.

Makanya ketika mendengar berita dari tanah air tentang tutup-menutup rumah makan selama puasa terdengar seperti lelucon dari surga. Kami yang tinggal di sini pun hanya bisa tertawa saja.

Tidak jarang, ada kolega yang bertanya tentang puasa. Ungkapan seperti “Oh, you’re fasting. it must be hard“,  “not even drink?” atau “Wow! that’s terrible!” pernah terdengar di hadapan saya. Hal yang menarik adalah dalam ungkapan ini umumnya bersifat empatik dan ada usaha untuk mencoba memahami.

Bukber

Fenomena acara buka bersama atau iftar party juga ada di sini. Hanya saja, sekarang tidak perlu khawatir antrian di jalan, kantin, atau rumah makan dikarenakan yang akan buka puasa tidak sebanyak ketika di Indonesia.

Khusus untuk warga negara Indonesia di Wina, perkumpulan warga muslim Indonesia biasanya mengadakan acara buka puasa rutin yang diadakan 2-3 kali seminggu. Tahun ini, acara buka puasa bersama diadakan dua kali seminggu. Sekitar dua tahun lalu, acara buka puasa bahkan diadakan hingga tiga kali dalam seminggu dan mengundang Ustadz khusus dari Indonesia untuk mengisi kegiatan ramadhan.

Ramadhan akan segera berakhir, banyak dari warga Indonesia yang tinggal di sini sudah mulai kembali ke tanah air. Tadi malam adalah hari terakhir acara buka bersama untuk ramadhan kali ini. Kemungkinan rabu besok sudah akan diselenggarakan sholat Ied yang biasanya di KBRI/PTRI Wina.

Saya sudahi dulu ceritera kali ini, sampai ketemu di tulisan berikutnya (besok!).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s