On Big Data and me

Beberapa tahun yang lalu, Saya mendengar pertama kali istilah “Big Data”. Kala itu istilah ini bagi saya masih terasa seperti jargon marketing, ‘buzzword’, ‘hype’, atau euforia yang membuat definisinya terdengar menarik namun maknanya sulit dipahami. Teknologi pada waktu itu juga memang sedang ramai-ramainya dengan media sosial dan mungkin awal dari revolusi penyampaian ide dari yang konyol sampai yang luar biasa (konyol, eh maksudnya) serius.

Sekarang mungkin masih banyak ekspresi yang terdengar hiperbola namun setidaknya potongan puzzle-nya sudah semakin jelas. Dalam bidang informatika, topik yang saya pelajari lebih banyak menitikberatkan pada proses algoritmik untuk menganalisis data yang pada dasarnya kompleks seperti multimedia (misal peta, gambar, dan video). Istilah ‘big data’ sendiri saya dengar pertama kali dari area yang lebih banyak penekanan pada data dan bagaimana penanganannya. Sekarang Saya cenderung memahami istilah big data sebagai sebuah konvergensi teknologi.

Read More

Towards Optimal Sample Database for Learning-based Pattern Detector

What are the optimal parameters for developing a pattern detector?

Pertanyaan itu membuka pagi saya hari ini. Asal-muasal pertanyaan itu muncul dari sebuah pertanyaan pada milis opencv perihal seberapa banyak dan seberapa variatif sampel positif dan negatif yang harus dikumpulkan untuk membuat suatu sistem pendeteksi objek visual secara umum. Hal ini cukup memancing rasa penasaran. Pertama persoalan deteksi merupakan persoalan pengenalan pola (pattern recognition) yang paling sederhana dan batasannya paling longgar jika dibandingkan dengan segmentasi (deteksi batas pola) dan klasifikasi/pengenalan banyak-objek ataupun banyak-kategori/kelas. Persoalan deteksi outputnya biner, yakni hanya ada dua jawaban: ya(ada) atau tidak jika diberikan suatu pola masukan. Sebagai contoh, mata kita sangat sensitif mendeteksi pola wajah. Bahkan mungkin untuk pola yang bukan wajah tapi tampak seperti wajah pun masih dapat dideteksi secara objektif, bukan hanya halusinasi satu orang saja.

Read More

Naruto, Blogging, dan Soft-Computing

Kemarin saya baru menonton naruto shipuuden episode 56. Ceritanya adalah metode belajar dari kakashi yang menggunakan karakteristik dari Kage Bunshin no Jutsu yang menggabungkan experience yang didapat dari masing-masing clone untuk mempercepat proses belajar.

come to think of it, sifat ini mirip dengan yang saya alami di blogosphere. Dalam kondisi ideal jika sekumpulan blogger melakukan eksplorasi di bidang yang sama dengan daerah yang dieksplor berbeda, hal ini dapat mempercepat proses belajar (tentunya dengan asumsi tidak ada yang berbohong).

Mungkin ini ya yang dipercaya oleh para peneliti di bidang Multi-Agent Intelligence. Bahwa interaksi antar agent dapat mempercepat konvergensi suatu proses pembelajaran. Adakah yang memiliki paper tentang hubungan ini (fusion of learning experience to speed up convergence in learning multi-agent system)?

saya sendiri belum cukup banyak menjelajahi daerah multi-agent system dalam bidang AI. Tapi kemarin sempat baca-baca sekilas tentang monte-carlo simulation dan markov random field. Sepertinya ada kemiripan dengan proses fusi pembelajaran yang barusan.

*bongkar-bongkar koleksi pustaka*

NB: kok ujung-ujungnya malah ke soft-computing yah? hehe.. biarin ah!

Minat boleh tapi jangan lupakan yang lain

Mungkin saya sedang kena karma (syukur karma yang baik). Semasa kuliah dulu saya cukup alergi dengan mata kuliah seputar basis data (basis data, sistem basis data) dan lebih berminat ke kuliah AI dan Grafika. Saya juga semenjak kuliah tidak terlalu antusias dengan kuliah matematis (kalkulus the series, matematika diskret, matriks dan ruang vektor, metode numerik). Tapi ternyata sekarang justru saya malah menjadi suka dengan matematika seperti ketika masa sekolah (SD-SMA) dan pekerjaan-pekerjaan yang saya dapatkan justru seputar basis data. proyek outsource pertama saya justru menggunakan MS Access, walaupun deskripsi pekerjaannya adalah menggambar di laporan, tetapi sebelumnya saya tidak pernah menggunakan MS Access!. Untungnya waktu SMA saya sempat ngoprek bikin virus makro pakai VBA jadi sudah agak familiar dengan penggunaan VBA. 😀 dan pekerjaan yang sedang saya lakukan sekarang mau tidak mau harus menggunakan basis data. oh my.. di saat sekarang saya berterima kasih pada guru-guru matematika saya :

  • puput teman semasa SD kelas 3 yang membuat saya mudeng dengan pembagian
  • pak gultom guru matematika semasa SMP 74 Rawamangun JKT
  • pak chusnul(alm), pak ali, dan pak iman (betul tidak yah namanya) yang mengajarkan matematika di SMA 8 JKT
  • Pak samyoeto (dosen kalkulus 1), Pak Rin (dosen matematika diskret)

Para dosen basis data di IF (bu cia dan pak adi) dan Pak Iping yang ‘memaksa’ saya untuk mengerti ‘makna’ dari basisdata sehingga basis data memiliki tampilan yang ‘lain’ 🙂

Thank you all, 🙂